1. Apakah phantom emotion mewakili personal ?
Phantom Emotion merupakan emosi semu yang tidak terinterprentasikan dan biasanya orang yang mengalaminya akan sulit memahami apa yang terjadi pada lingkungan di sekitarnya.
Sebagai contoh pada televisi. Televisi adalah media massa yang menjual
“situasi” kepada penontonnya. Dinamisasi gambar yang bergerak begitu cepat dan angle-angle kamera yang dihasilkan dari berbagai sudut, telah “menghipnotis” penontonnya untuk tetap diam terpaku di depan layar kaca. Kekuatan pada dinamika gambar, memang bukan satu-satunya kekuatan yang dimiliki media televisi, perpaduan antara kata-kata yang disampaikan presenter (penyiar) dan hiruk pikuk suara di
lokasi kejadian, akan menambah kekuatan pesan itu sendiri. Makna yang terkandung dalam pesan-pesan gambar itu tidak berasal dari informasi itu sendiri. Makna tidak menyertai jumlah dokumen, fakta atau kepingan informasi tapi bergantung (minimal sebagian) pada komitmen awal skema konseptual, teori dan perspektif. Perkembangan ideologi, Era Ideologi merupakan respon dasar terhadap revolusi komunikasi; ia merupakan usaha untuk memberikan makna.
Era Ideologi bisa dilihat sebagai perkembangan produksi sistem simbol yang merespon meningkatnya pasar kebutuhan makna; khsususnya, makna sekuler, dikarenakan menurunnya sistem nilai lama dan agama yang sebelumnya terkait dengan rezim lama; sebagian dikarenakan struktur sosial baru dan kejadian-kejadian revolusioner yang harus disintesakan; dan sebagian besar disebabkan oleh meluasnya informasi ke segala arah karena revolusi komunikasi. Era Ideologi tidak hanya dilihat sebagai respons terhadap fragmentasi berita, tapi juga berkaitan dengan pengembangan sejarah modern. Perkembangan sejarah modern menghubungkan kejadian masa lalu dan sekarang dan mendorong saling keterkaitan antar subsistem tersendiri dalam masyarakat. Contohnya, saling keterkaitan antara ekonomi dan politik dan sejarah tidak lagi merupakan kepingan kisah mengenai kekuasaan kerajaan. Sejarah baru mengalami perluasan konteks sebagaimana ideologi. Munculnya media massa dan media publik merupakan perkembangan konstruktif. Publik muncul ketika terjadi penurunan pola dan interaksi sosial antar budaya, kelompok tradisional memiliki karakteristik pola interaksi sosial antar anggotanya yang mendorong pemahaman dan minat bersama dan memungkinkan interaksi sosial. Publik, adalah sejumlah orang yang terekspose kepada
rangsangan yang sama dan memiliki kesamaan bahkan tanpa berinteraksi satu sama lainnya. Media massa memudahkan interaksi sosial untuk kesamaan budaya. Informasi dan orientasi, fakta dan nilai-nilai bisa diketahui tanpa interaksi antar manusia. Keyakinan sebagian orang yang dinilai sebagai hal yang nyata
dan bernilai sekarang bisa dikontrol dari kejauhan, terpisah dan diluar dari
mereka yang meyakininya.
Berita memungkinkan seseorang membandingkan kondisinya dengan orang lain. Berita memungkinkan alternatif ditentukan sebagai realistis dengan menunjukkan kondisi berbeda yang sudah ada. Berita memungkinkan seseorang untuk meramalkan kondisi di masa datang, contohnya pada laporan ramalan cuaca. Analisis awal terhadap publik dan berita bahwa berita menafsirkan sebuah publik dengan mendorong dialog tatap muka. Percakapan diperkuat untuk memecahkan keitdakpastian tentang makna berita. Percakapan berdasar berita, sebagai sarana rasionalitas publik bergantung pada tidak adanya mata-mata pemerintahan, informan, sensor dan agen rahasia yang ditugaskan oleh pemerintah. Sistem kelas dan negara harus dikeluarkan dari percakapan agar publik bisa mengaktualisasikan potensinya untuk mengajukan kritik rasional.
Transformasi sosial sendiri tidak akan bisa meningkatkan rasionalitas publik jika ia tidak mencegah negara agar tidak membebankan hukuman atau penyelidikan atas percakapan kritis. Ideologi berfungsi memobilisasi pergerakan sosial dalam publik melalui perantara surat kabar dan media lainnya. Pergerakan merupakan sektor publik yang bertujuan untuk proyek publik dan identitas sosial umum. Pergerakan sosial merupakan sektor pulik yang responsif terhadap ideologi mereka memiliki ideologi yang pada satu sisi menterjemahkan berita dan di sisi lain, menyediakan kesadaran atas identitas sosialnya dari laporan-laporan dalam media berita. Gagasan “publik” berkembang dengan munculnya gagasan “pribadi”. Hubungan antara keduanya tidak selalu sama di semua negara. Publik dan pribadi berkembang bersama. Untuk membuat suatu permasalahan menjadi masalah publik berarti membukanya terhadap orang-orang asing, mereka yang umumnya tidak terlihat dan terdengar. Pada tingkatan paradigmatik
publik adalah di luar keluarga. Pertumbuhan publik dan pribadi yang bersamaan berarti perkembangan batasan kekuatan publik, pembentukan batasan bagi sebuah lembaga dimana publik tidak bisa ikut campur di dalamnya. Berkaitan dengan pesan-pesan yang
disampaikan melalui media televisi, dalam artikelnya Hans-Bern Brosius berargumen bahwa efek emosi secara visual ditunjukkan tidak dalam ingatan yang jelas dari teks tetapi melalui bentuk-bentuk spesifik dari kesalahan dalam pengingatan dan hubungan dari kesalahan-kesalahan ini kepada bagian-bagian tertantu dari berita. Kesalahan-kesalahan ini terjadi karena emosi secara visual berfokus pada bagian-bagian spesifik dari berita dan bahwa ingatan disusun kembali dari penilaian yang perseptual yang digeneralisasi dari bagian-bagian spesifik. Belajar dari berita TV –walaupun dianggap sebagai alat untuk membentuk pendapat umum dalam masyarakat demokratis- menjadi lebih lemah dari yang diharapkan. Bahkan setelah penyiaran selesai, pada umumnya pemirsa hanya dapat mengingat sedikit cerita yang disiarkan dan informasi yang diberikanpun tidak lengkap. Konsekuensi dari kondisi ini, pesan yang ingin disampaikan tidak sesuai dengan sasaran yang diharapkan. Mayoritas penelitian yang pernah dilakukan terdahulu memang memfokuskan pada bagaimana peranan efek-efek visual yang ditampilkan dalam layar kaca, dikaitkan dengan pemahaman terhadap informasi yang dituangkan dalam teks berita. Film dan gambar-gambar dalam berita, merupakan penggambaran yang unik dari sebuah tayangan televisi, dan ini kemudian yang membedakannya antara pesan lewat radio maupun suratkabar. Kesimpulannya tentu saja, gambar-gambar dalam layar televisi sangat membantu untuk mengingatkan pada isi berita.
Pengikut
Sabtu, 09 Januari 2010
Langganan:
Postingan (Atom)

