INGIN NAGIS >>>>>>>>>>>>>>>>
malam ini (Rabu, 21:30 WIB)...
Ga tahu kenapa hati ni terasa berat sekali untuk bergerak dan tergerak..
Bila saja aku bisa menghilang dari kehidupan yang membosan kan ini,
Maka aku pun akn menghilang,
Hati ini sudah ga bisa bertahan dalam keadaan seperti ini,
Sepi, ga punya temen, ga punya uang, ga da yang bisa di ajak curhat,
Ga ada yang tahu aku mau nya pa,,
Semua orang mau dimengerti..
Tapi apakah aku ga boleh minta untuk di mengerti..????
Kenyaan ini tak begitu menyakitkan bagi ku,,
Juga ga begitu menyedih kan...
TAPI, mengapa aku terisak menangis...???
Pengen nangis keras2...
Ga kuat membawa beban ini...
Aku lagi butuh seseorang teman yang bisa mensuport aku...
Tapi satu pun tak ada yang bisa aku jadi teman curhat ku...
Semua sibuk dengan kesibukan mereka masing..
Akku ga punya temen....
NANGIS>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
Pengen deket sama ibi bapak...
Tapi mereka jauh...
Ga bisa ketemu mereka setiap waktu....
Cuma mereka tah yang sayanng ama aku...???
Mereka sudah cukup menderita dengan keadaan ku,
Aku ga pengen mereka lebih menderita karena keadaan ku yang sekarang...
Aku akan menyanyi mereka...
Lebih dari segalanya..
Aku JANJI malam ini...
Akku akan mencoba menjadi yanng terbaik dimata mereka dengan cara yang benar dan restunya...
Ma...
Aku mau curhat malam ini...
Hari ini sedih...
Aku merasa bahwa aku sudah tidak layak menjadi seorang teman...
Teman ku sepertinya sudah tidak menginginkan ku...
Dia tidak pernah mendengarkan perkataan ku...
Tidak lagi bersahabat dengan ku...
Dia sudah punya temen baru..
Dia lebih dari aku...
Bisa memberi apa yang harus nya diberikan oleh seorang teman...
Dia tidak lagi perduli dengan ku...
Dalam keadaan yang sulit pun dia tidak lagi percaya dengan ku lagi...
Dia tidak lagi mau bersama ku..
Bahkan dia tidak mau nginep tempat ku lagi...
Padahal hari ini sudah malam banget...
Keadaan sedang hujan, gelap, tapi dia lebih memililh pulang dan pergi meninggalkan kosan ku...
Padahal betapa jauh kosan nya dari tempat ku...
Aku ga tau apa yang sedang ia pikirkan...
Apa kah benar prasangka ku ini..???
Bahwa ia ingin menjauh dari ku...
Pengikut
Minggu, 27 Maret 2011
Senin, 25 Januari 2010
TEORI KOMUNIKASI
DASAR-DASAR TEORI KOMUNIKASI
Komunikasi merupakan suatu proses, proses yang melibatkan source atau komunikator, message atau pesan dan receiver atau komunikan. Pesan ini mengalir melalui suatu media. Yang kemudian bisa terjadi berbagai hambatan dalam prosesnya, inilah yang biasa dikenal dengan noise. Manusia senantiasa mengadakan komunikasi karena manusia membutuhkan transaksi dalam hidup, inilah modus utama sebuah komunikasi yaitu transaksional. Karenanya, komunikasi sering mengundang feedback dari para komunikannya. Mempelajari teori-teori komunikasi menjadi semacam pedoman fundamental untuk mahasiswa Ilmu Komunikasi untuk lebih mengenal lagi bidang studi yang didalaminya.
Teori adalah konsep-konsep atau abstraksi, penyederhanaan dari suatu fakta atau pengetahuan. Pengetahuan itu sendiri merupakan perspektif panca indera yang bisa jadi sangat relatif, karena tidak semua orang berlatar belakang sama, entah itu latar belakang pendidikan, budaya, agama, sehingga bagaimana menanggapi suatu pengetahuan bisa sangat berbeda antara seseorang dengan yang lain. Seorang yang melihat sebuah rumah dari depan, akan berbeda perspektif dengan orang yang melihat rumah yang sama dari samping.
Atas dasar heterogenitas manusia, keberagaman latar belakang, teori hadir menjadi konsep untuk dijalankan menjadi sebuah metode, menjadi intisari pengetahuan yang diterima secara universal, disepakati umum, hingga dalam hal ini memudahkan manusia untuk menerapkannya. Teori terbagi dua: General atau Umum dan Kontekstual.
1. Pendekatan Keilmuan
Sebuah pengetahuan, akan menjadi ilmu pengetahuan jika memenuhi syarat-syarat: sistematis, pengetahuan tersebut haruslah sistematis, tersusun dengan jelas, sehingga dapat dicerna akal manusia. Pengetahuan tersebut memiliki objek kajian, Filsafat misalnya, objek kajiannya adalah segala hal yang ada dan mungkin ada. Pengetahuan tersebut memiliki metodologi. Serta yang terakhir, pengetahuan tersebut bersifat universal, tidak diketahui oleh kelompok tertentu semata, bisa diterima khalayak luas. Ilmu-ilmu pengetahuan yang beragam ini lalu diklasifikasi melalui beberapa pendekatan keilmuan:
a. Pendekatan Scientific
Pendekatan keilmuan scientific, sifatnya sangat objektif. Memiliki alat ukur yang terstandar (standardize). Sebuah alat ukur yang umum.
Ilmu pengetahuan yang terdapat dalam pendekatan scientific seperti Fisika, di seluruh dunia telah menjadi standar yang umum bahwa frekuensi bunyi adalah panjang gelombang dibagi waktu. Dan tidak akan terjadi perdebatan mengenai hal ini.
b. Pendekatan Humaniora
Sangat berbeda dengan pendekatan scientific, pendekatan humaniora sifatnya subjektif. Pendekatan ini memahami bahwa manusia dapat diukur. Pendekatan ini berkaitan dengan nilai, budaya, sejarah, dll. Seperti halnya pengalaman. Kita mendapatkan pengalaman dengan dua jalan, langsung dan tidak langsung. Idealnya, pengalaman langsung kita dapatkan untuk hal yang baik, seperti mendapatkan cumlaude di akhir kuliah. Dan pengalaman tidak langsung untuk hal-hal yang tidak begitu baik seperti kita mendengar kabar seseorang yang di-DO. Dari kedua pengalaman itu, kita memetik nilai-nilai.
c. Pendekatan Ilmu Sosial
Pendekatan ini merupakan perpaduan scientific-humaniora. Karena kadang kita mengamati gejala sosial manusia dan masyarakat menggunakan metode yang ilmuah, sistematis, melalui rangkaian proses.
TEORI KONTEKSTUAL
Dalam komunikasi, sebagaimana telah disebutkan di atas, kita mengenal banyak kondisi di mana komunikator menggunakan media yang berbeda dalam menghadapi berbagai jumlah komunikan, dan disertai tujuan komunikasi yang berbeda pula. Jika komunikator menginginkan self-disclosure dengan seseorang, maka dia perlu menerapkan metode-metode dalam teori komunikasi interpersonal. Sebaliknya, jika komunikator berkeinginan untuk menjalankan sebuah sistem kelompok, dengan tujuan yang akan dicapai bersama, maka dia akan memegang teguh prinsip-prinsip komunikasi kelompok.
Teori-teori itu disebut Teori Kontekstual, yang antara lain:
a. Intrapersonal Communication, yaitu interaksi dengan diri pribadi, yang sering terjadi ketika kita mempertimbangkan suatu hal. Interpersonal Communication mungkin terjadi karena setiap manusia memiliki dua hal yang bertentangan dalam dirinya yaitu ego dan nurani.
b. Interpersonal Communication, yaitu pertukaran pesan yang dilakukan dua orang yang sejajar, dan tidak lebih, di mana tujuan utamanya adalah self-disclosure. Pesan yang terdapat dalam komunikasi ini sifatnya pribadi, dan proses penyampaiannya lebih efektif melalui tatap muka secara langsung, meski dalam abad revolusi komunikasi saat ini, teknologi membolehkan terjadinya interpersonal communication, melalui telepon atau perbincangan (chat) di internet, dll.
c. Group Communication, yaitu pertukaran pesan dalam kelompok manusia yang sejajar dan berjumlah tiga hingga lima belas orang, yang saling berinteraksi dalam jangka waktu yang lama sehingga terjadi interdependensi dan menjadikan mereka memiliki tujuan yang sama.
d. Organizational Communication, adalah pertukaran pesan dalam organisasi, yaitu kelompok berstruktur. Terdapat aturan di dalamnya. Dan mereka melakukan interaksi yang terus-menerus demi tujuan utama sebuah organisasi: eksistensi.
e. Mass Communication, yaitu proses penyampaian pesan dari sebuah lembaga dengan masyarakat anonim yang heterogen sehingga pesannya bersifat umum dan cenderung bersifat satu arah, one way communication. Dalam komunikasi massa, tidak terjadi feedback/ umpan balik dan komunikasi massa senantiasa menggunakan teknologi.
f. Intercultural Communication, adalah pertukaran pesan antar kebudayaan.
TEORI KOMUNIKASI BERDASARKAN JENIS
a. Teori-teori Fungsional & Struktural
Teori fungsional adalh teori yang asalnya adalah Biologi, teori ini menekankan pada bagaimana mengorganisir & mempertahankan sistem. Sementara teori struktural yang berasal dari ilmu linguistik berbicara tentang fakta bahwa seorang pengamat adalah bagian dari struktur, sehingga cara pandangnya juga akan dipengaruhi oleh struktur di luar dirinya. Teori struktural menekankan kajiannya pada bagaimana mengorganisir bahasa dan sistem sosial.
b. Teori-teori Behavioral & Kognitif
Dikenal juga sebagai tori tingkah laku dan teori pengetahuan. Teori-teori ini berkembang dari ilmu-ilmu pengetahuan behavioral dan aliran-aliran psikologi. Oleh karena itu, sifatnya sangat individual.
Pusat kajian teori behavioral & kognitif ini berfokus pada diri manusia secara individu. Salah satu konsep yang paling terkenal adalah teori S-R, Stimulus-Response yang menggambarkan bahwa proses informasi antara stimulus dan respon, bahwa manusia bersikap dan bertindak karena adanya stimulan. Manusia bersikap karena pengetahuannya yang dibentuk oleh lingkungan seperti lingkungan keluarga dan organisasi.
c. Teori Konvensional & Interaksional
Teori-teori ini berkembang dari aliran pendekatan interaksional simbolis, pandangan dan asumsi teori konvensional & interaksional bahwa kehidupan sosial merupakan suatu proses interaksi yang sifatnya membangun, memelihara, mengubah kebiasaan tertentu, termasuk bahasa dan simbol-simbol yang digunakan dalam komunikasi. Bahwa pengetahuan dapat ditemukan melalui metode interpretasi makna.
d. Teori Kritis dan Interpretif
Penekanan teori kritis dan interpretif terletak pada peran subjektivitas yang didasarkan pada pengalaman individual. Teori ini memandang “meaning” sebagai konsep kunci dalam teori-teori ini. Teori kritis dan interpretif dikembangkan oleh Negara-negara di Eropa, utamanya di Jerman, Frankfut School.
TEORI ELEMEN KOMUNIKASI
1. Komunikator : proses komunikasi berawal dari sumber atau pengirim pesan, yaitu dimana gagasan, ide atau pikiran , yang kemudian akan di sampaikan kepada pihaknlainnya, yaitu pengirim pesan. Sumber atau pengirim pesan sering pula di sebut dengan komunikattor.
2. Enkoding : dapat diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan sumber untuk menerjemahkan pikiran atau ide-idenyakedalam suatu bentuk yang diterima oleh indra pihak penerima.
3. Pesan : ketika kita berbicara maka kata-kata yang kita ucapkan adalah pesan. Pesan memililki wuujud yang dapat dirasakan atau diterima oleh indra. Dominick mendefinisikan pesan sebagai the actual phisycal produc the source encodes.
4. Saluran : saluran atau channel adalah jalan yang di lalui pesan untuk sampai kepada penerima. Aliran udara dapat juga berfungsi sbagai saluran.
5. Dekoding : kegiatan untuk menerjemahkan atau menginterpretasikan pesan-pesan fisik kedalam suatu bentuk yang memiliki arti bagi penerima.
6. Komunikan : disebut juga audiens yaitu sasaran atau target dari pesan penerima.
7. Umpan Balik : tanggapan atau respons dari penerima pesan yang membentuk dan mengubah pesan berikut yang akan disampaikan oleh sumber.umpan balik menjadi perputaran arah dari arus komunikasi.
8. Gangguan
TRADISI TEORI KOMUNIKASI
Telah lama para ahli berupaya memberikan penjelasan mengenai pengertian 'komunikasi' melalui berbagai teori yang mereka kemukakan. Namun semakin banyak upaya yang dilakukan untuk menjelaskan komunikasi, melalui berbagai penelitian, justru pengertian komunikasi semakin kabur. Namun disinilah letak daya tarik ilmu komunikasi karena selalu membuka peluang untuk diskusi dan argumentasi. Hal ini tentu saja menuntut praktisi komunikasi untuk terus menerus memperbaharui pengetahuannya di bidang ini.
Berbagai perbedaan pandangan mengenai komunikasi disebabkan para ahli komunikasi memiliki ketertarikan yang berbeda-beda terhadap berbagai bidang atau aspek yang tercakup dalam ilmu komunikasi. Para ahli komunikasi juga memiliki pandangan yang tidak sama mengenai hal apa yang menjadi fokus perhatian atau aspek apa dalam komunikasi yang menurut mereka paling penting dalam ilmu komunikasi.
Tidak adanya teori tunggal dalam ilmu komunikasi mendorong kita untuk memiliki suatu metamodel teori komunikasi yang bersifat menyeluruh (komprehensif) yang dapat membantu kita menjelaskan berbagai topik dan asumsi dan membantu kita dalam melakukan pendekatan terhadap berbagai teori yang ada. Metamodel teori komunikasi menyediakan suatu sistem yang kuat bagi kita untuk mengorganisir berbagai teori komunikasi.
Disini, kita menggunakan pandangan Robert T. Craig dalam menjelaskan berbagai teori komunikasi yang jumlahnya banyak itu. Robert Craig membagi dunia teori komunikasi ke dalam tujuh kelompok pemikiran atau tujuh tradisi pemikiran yaitu:
1. Sosiopsikologi (sociopsychological)
2. Sibernetika (cybernetic)
3. Retorika (rhetorical)
4. Semiotika (semiotic)
5. Sosiokultural (sociocultural)
6. Kritis (critical)
7. Fenomenologi (phenomenology)
1. SOSIOPSIKOLOGI
Pemikiran yang berada dibawah naungan sosiopsikologi memandang individu sebagai makhluk sosial. Teori-teori yang berada di bawah tradisi sosiopsikologi memberikan perhatiannya antara lain pada perilaku individu, pengaruh, kepribadian dan sifat individu atau bagaimana individu melakukan persepsi. Sosiopsikologi digunakan dalam topik-topik tentang diri individu, pesan, percakapan, hubungan interpersonal, kelompok, organisasi, media, budaya dan masyarakat.
2. SIBERNETIKA
Sibernetika memandang komunikasi sebagai suatu sistem dimana berbagai elemen yang terdapat di dalamnya saling berinteraksi dan saling mempengaruhi. Komunikasi dipahami sebagai sistem yang terdiri dari bagian-bagian atau variabel-variabel yang saling mempengaruhi satu sama lain. Sibernetika digunakan dalam topik-topik tentang diri individu, percakapan, hubungan interpersonal, kelompok, organisasi, media, budaya dan masyarakat.
3. RETORIKA
Retorika didefinisikan sebagai seni membangun argumentasi dan seni berbicara. Dalam perkembangannya retorika juga mencakup proses untuk ‘menyesuaikan ide dengan orang dan menyesuaikan orang dengan ide melalui berbagai macam pesan’
4. SEMIOTIKA
Semiotika memandang komunikasi sebagai proses pemberian makna melalui tanda yaitu bagaimana tanda mewakili objek, ide, situasi, dan sebagainya yang berada diluar diri individu. Semiotika digunakan dalam topik-topik tentang pesan, media, budaya dan masyarakat.
5. SOSIOKULTURAL
Cara pandang sosiokultural menekankan gagasan bahwa realitas dibangun melalui suatu proses interaksi yang terjadi dalam kelompok, masyarakat dan budaya. Sosiokultural lebih tertarik untuk mempelajari pada cara bagaimana masyarakat secara bersama-sama menciptakan realitas dari kelompok sosial, organisasi dan budaya mereka. Sosiokultural digunakan dalam topik-topik tentang diri individu, percakapan, kelompok, organisasi, media, budaya dan masyarakat.
6. KRITIS
Pertanyaan-pertanyaan mengenai kekuasaan (power) dan keistimewaan (privilege) yang diterima kelompok tertentu di masyarakat menjadi topik yang sangat penting dalam teori kritis. Kritis memandang komunikasi sebagai bentuk pemikiran yang menentang ketidakadilan. Tradisi kritis digunakan dalam topik-topik tentang diri individu, pesan, percakapan, hubungan interpersonal, kelompok, organisasi, media, budaya dan masyarakat.
7. FENOMENOLOGI
Fenomenologi memandang komunikasi sebagai pengalaman melalui diri sendiri atau diri orang lain melalui dialog. Tradisi memandang manusia secara aktif menginterpretasikan pengalaman mereka sehingga mereka dapat memahami lingkungannya melalui pengalaman personal dan langsung dengan lingkungan. Tradisi fenomenologi memberikan penekanan sangat kuat pada persepsi dan interpretasi dari pengalaman subjektif manusia. Pendukung teori ini berpandangan bahwa cerita atau pengalaman individu adalah lebih penting dan memiliki otoritas lebih besar dari pada hipotesa penelitian sekalipun. Fenomenologi digunakan dalam teori-teori tentang pesan, hubungan interpersonal, budaya dan masyarakat.
Berbagai perbedaan yang terkandung dalam masing-masing kelompok tradisi komunikasi tersebut mempengaruhi pada cara melakukan riset atau penelitian komunikasi dan mempengaruhi pilihan teori yang akan digunakan. Setiap teori menggunakan cara atau metode riset yang berbeda yang secara umum dapat dibagi ke dalam dua kelompok besar paradigma penelitian yaitu objektif dan interpretatif.
1. Objektif
Ilmu pengetahuan seringkali diasosiasikan dengan sifatnya yang objektif (objectivity) yang berarti bahwa pengetahuan selalu mencari standarisasi dan kategorisasi. Dalam hal ini, para peneliti melihat dunia sedemikian rupa sehingga peneliti lain yang menggunakan cara atau metode melihat yang sama akan menghasilkan kesimpulan yang sama pula. Dengan kata lain, suatu replikasi atau penelitian yang berulang-ulang akan selalu menghasilkan kesimpulan yang persis sama sebagaimana penelitian dalam ilmu pengetahuan alam (natural sciences). Penelitian yang menggunakan metode objektif sering disebut dengan penelitian empiris (scientific scholarship) atau positivis. Perlu ditegaskan disini bahwa apa yang dikenal selama ini sebagai tipe penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif masuk dalam kategori penelitian objektif positivis ini.
2. Interpretatif
Mereka yang menggunakan pendekatan ini sering disebut dengan humanistic scholarship. Jika metode objektif (penelitian kuantitatif/kualitatif) bertujuan membuat standarisasi observasi maka metode subjektif (penelitian interpretatif) berupaya menciptakan interpretasi. Jika ilmu pengetahuan berupaya untuk mengurangi perbedaan diantara para peneliti terhadap objek yang diteliti maka para peneliti humanistik berupaya untuk memahami tanggapan subjektif individu. Pendekatan interpretatif memandang metode penelitian ilmiah tidaklah cukup untuk dapat menjelaskan 'misteri' pengalaman manusia sehingga diperlukan unsur manusiawi yang kuat dalam penelitian. Kebanyakan mereka yang berada dalam kelompok ini lebih tertarik pada kasus-kasus individu daripada kasus-kasus umum.
Berdasarkan klasifikasi teori komunikasi oleh Robert Craig tersebut, yang manakah dari ketujuh tradisi teori komunikasi tersebut yang memiliki sifat objektif dan yang manakah yang bersifat interpretatif. Dalam hal ini, kita dapat menggunakan pandangan Griffin melalui peta tradisi teori komunikasi sebagai berikut:
Komunikasi merupakan suatu proses, proses yang melibatkan source atau komunikator, message atau pesan dan receiver atau komunikan. Pesan ini mengalir melalui suatu media. Yang kemudian bisa terjadi berbagai hambatan dalam prosesnya, inilah yang biasa dikenal dengan noise. Manusia senantiasa mengadakan komunikasi karena manusia membutuhkan transaksi dalam hidup, inilah modus utama sebuah komunikasi yaitu transaksional. Karenanya, komunikasi sering mengundang feedback dari para komunikannya. Mempelajari teori-teori komunikasi menjadi semacam pedoman fundamental untuk mahasiswa Ilmu Komunikasi untuk lebih mengenal lagi bidang studi yang didalaminya.
Teori adalah konsep-konsep atau abstraksi, penyederhanaan dari suatu fakta atau pengetahuan. Pengetahuan itu sendiri merupakan perspektif panca indera yang bisa jadi sangat relatif, karena tidak semua orang berlatar belakang sama, entah itu latar belakang pendidikan, budaya, agama, sehingga bagaimana menanggapi suatu pengetahuan bisa sangat berbeda antara seseorang dengan yang lain. Seorang yang melihat sebuah rumah dari depan, akan berbeda perspektif dengan orang yang melihat rumah yang sama dari samping.
Atas dasar heterogenitas manusia, keberagaman latar belakang, teori hadir menjadi konsep untuk dijalankan menjadi sebuah metode, menjadi intisari pengetahuan yang diterima secara universal, disepakati umum, hingga dalam hal ini memudahkan manusia untuk menerapkannya. Teori terbagi dua: General atau Umum dan Kontekstual.
1. Pendekatan Keilmuan
Sebuah pengetahuan, akan menjadi ilmu pengetahuan jika memenuhi syarat-syarat: sistematis, pengetahuan tersebut haruslah sistematis, tersusun dengan jelas, sehingga dapat dicerna akal manusia. Pengetahuan tersebut memiliki objek kajian, Filsafat misalnya, objek kajiannya adalah segala hal yang ada dan mungkin ada. Pengetahuan tersebut memiliki metodologi. Serta yang terakhir, pengetahuan tersebut bersifat universal, tidak diketahui oleh kelompok tertentu semata, bisa diterima khalayak luas. Ilmu-ilmu pengetahuan yang beragam ini lalu diklasifikasi melalui beberapa pendekatan keilmuan:
a. Pendekatan Scientific
Pendekatan keilmuan scientific, sifatnya sangat objektif. Memiliki alat ukur yang terstandar (standardize). Sebuah alat ukur yang umum.
Ilmu pengetahuan yang terdapat dalam pendekatan scientific seperti Fisika, di seluruh dunia telah menjadi standar yang umum bahwa frekuensi bunyi adalah panjang gelombang dibagi waktu. Dan tidak akan terjadi perdebatan mengenai hal ini.
b. Pendekatan Humaniora
Sangat berbeda dengan pendekatan scientific, pendekatan humaniora sifatnya subjektif. Pendekatan ini memahami bahwa manusia dapat diukur. Pendekatan ini berkaitan dengan nilai, budaya, sejarah, dll. Seperti halnya pengalaman. Kita mendapatkan pengalaman dengan dua jalan, langsung dan tidak langsung. Idealnya, pengalaman langsung kita dapatkan untuk hal yang baik, seperti mendapatkan cumlaude di akhir kuliah. Dan pengalaman tidak langsung untuk hal-hal yang tidak begitu baik seperti kita mendengar kabar seseorang yang di-DO. Dari kedua pengalaman itu, kita memetik nilai-nilai.
c. Pendekatan Ilmu Sosial
Pendekatan ini merupakan perpaduan scientific-humaniora. Karena kadang kita mengamati gejala sosial manusia dan masyarakat menggunakan metode yang ilmuah, sistematis, melalui rangkaian proses.
TEORI KONTEKSTUAL
Dalam komunikasi, sebagaimana telah disebutkan di atas, kita mengenal banyak kondisi di mana komunikator menggunakan media yang berbeda dalam menghadapi berbagai jumlah komunikan, dan disertai tujuan komunikasi yang berbeda pula. Jika komunikator menginginkan self-disclosure dengan seseorang, maka dia perlu menerapkan metode-metode dalam teori komunikasi interpersonal. Sebaliknya, jika komunikator berkeinginan untuk menjalankan sebuah sistem kelompok, dengan tujuan yang akan dicapai bersama, maka dia akan memegang teguh prinsip-prinsip komunikasi kelompok.
Teori-teori itu disebut Teori Kontekstual, yang antara lain:
a. Intrapersonal Communication, yaitu interaksi dengan diri pribadi, yang sering terjadi ketika kita mempertimbangkan suatu hal. Interpersonal Communication mungkin terjadi karena setiap manusia memiliki dua hal yang bertentangan dalam dirinya yaitu ego dan nurani.
b. Interpersonal Communication, yaitu pertukaran pesan yang dilakukan dua orang yang sejajar, dan tidak lebih, di mana tujuan utamanya adalah self-disclosure. Pesan yang terdapat dalam komunikasi ini sifatnya pribadi, dan proses penyampaiannya lebih efektif melalui tatap muka secara langsung, meski dalam abad revolusi komunikasi saat ini, teknologi membolehkan terjadinya interpersonal communication, melalui telepon atau perbincangan (chat) di internet, dll.
c. Group Communication, yaitu pertukaran pesan dalam kelompok manusia yang sejajar dan berjumlah tiga hingga lima belas orang, yang saling berinteraksi dalam jangka waktu yang lama sehingga terjadi interdependensi dan menjadikan mereka memiliki tujuan yang sama.
d. Organizational Communication, adalah pertukaran pesan dalam organisasi, yaitu kelompok berstruktur. Terdapat aturan di dalamnya. Dan mereka melakukan interaksi yang terus-menerus demi tujuan utama sebuah organisasi: eksistensi.
e. Mass Communication, yaitu proses penyampaian pesan dari sebuah lembaga dengan masyarakat anonim yang heterogen sehingga pesannya bersifat umum dan cenderung bersifat satu arah, one way communication. Dalam komunikasi massa, tidak terjadi feedback/ umpan balik dan komunikasi massa senantiasa menggunakan teknologi.
f. Intercultural Communication, adalah pertukaran pesan antar kebudayaan.
TEORI KOMUNIKASI BERDASARKAN JENIS
a. Teori-teori Fungsional & Struktural
Teori fungsional adalh teori yang asalnya adalah Biologi, teori ini menekankan pada bagaimana mengorganisir & mempertahankan sistem. Sementara teori struktural yang berasal dari ilmu linguistik berbicara tentang fakta bahwa seorang pengamat adalah bagian dari struktur, sehingga cara pandangnya juga akan dipengaruhi oleh struktur di luar dirinya. Teori struktural menekankan kajiannya pada bagaimana mengorganisir bahasa dan sistem sosial.
b. Teori-teori Behavioral & Kognitif
Dikenal juga sebagai tori tingkah laku dan teori pengetahuan. Teori-teori ini berkembang dari ilmu-ilmu pengetahuan behavioral dan aliran-aliran psikologi. Oleh karena itu, sifatnya sangat individual.
Pusat kajian teori behavioral & kognitif ini berfokus pada diri manusia secara individu. Salah satu konsep yang paling terkenal adalah teori S-R, Stimulus-Response yang menggambarkan bahwa proses informasi antara stimulus dan respon, bahwa manusia bersikap dan bertindak karena adanya stimulan. Manusia bersikap karena pengetahuannya yang dibentuk oleh lingkungan seperti lingkungan keluarga dan organisasi.
c. Teori Konvensional & Interaksional
Teori-teori ini berkembang dari aliran pendekatan interaksional simbolis, pandangan dan asumsi teori konvensional & interaksional bahwa kehidupan sosial merupakan suatu proses interaksi yang sifatnya membangun, memelihara, mengubah kebiasaan tertentu, termasuk bahasa dan simbol-simbol yang digunakan dalam komunikasi. Bahwa pengetahuan dapat ditemukan melalui metode interpretasi makna.
d. Teori Kritis dan Interpretif
Penekanan teori kritis dan interpretif terletak pada peran subjektivitas yang didasarkan pada pengalaman individual. Teori ini memandang “meaning” sebagai konsep kunci dalam teori-teori ini. Teori kritis dan interpretif dikembangkan oleh Negara-negara di Eropa, utamanya di Jerman, Frankfut School.
TEORI ELEMEN KOMUNIKASI
1. Komunikator : proses komunikasi berawal dari sumber atau pengirim pesan, yaitu dimana gagasan, ide atau pikiran , yang kemudian akan di sampaikan kepada pihaknlainnya, yaitu pengirim pesan. Sumber atau pengirim pesan sering pula di sebut dengan komunikattor.
2. Enkoding : dapat diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan sumber untuk menerjemahkan pikiran atau ide-idenyakedalam suatu bentuk yang diterima oleh indra pihak penerima.
3. Pesan : ketika kita berbicara maka kata-kata yang kita ucapkan adalah pesan. Pesan memililki wuujud yang dapat dirasakan atau diterima oleh indra. Dominick mendefinisikan pesan sebagai the actual phisycal produc the source encodes.
4. Saluran : saluran atau channel adalah jalan yang di lalui pesan untuk sampai kepada penerima. Aliran udara dapat juga berfungsi sbagai saluran.
5. Dekoding : kegiatan untuk menerjemahkan atau menginterpretasikan pesan-pesan fisik kedalam suatu bentuk yang memiliki arti bagi penerima.
6. Komunikan : disebut juga audiens yaitu sasaran atau target dari pesan penerima.
7. Umpan Balik : tanggapan atau respons dari penerima pesan yang membentuk dan mengubah pesan berikut yang akan disampaikan oleh sumber.umpan balik menjadi perputaran arah dari arus komunikasi.
8. Gangguan
TRADISI TEORI KOMUNIKASI
Telah lama para ahli berupaya memberikan penjelasan mengenai pengertian 'komunikasi' melalui berbagai teori yang mereka kemukakan. Namun semakin banyak upaya yang dilakukan untuk menjelaskan komunikasi, melalui berbagai penelitian, justru pengertian komunikasi semakin kabur. Namun disinilah letak daya tarik ilmu komunikasi karena selalu membuka peluang untuk diskusi dan argumentasi. Hal ini tentu saja menuntut praktisi komunikasi untuk terus menerus memperbaharui pengetahuannya di bidang ini.
Berbagai perbedaan pandangan mengenai komunikasi disebabkan para ahli komunikasi memiliki ketertarikan yang berbeda-beda terhadap berbagai bidang atau aspek yang tercakup dalam ilmu komunikasi. Para ahli komunikasi juga memiliki pandangan yang tidak sama mengenai hal apa yang menjadi fokus perhatian atau aspek apa dalam komunikasi yang menurut mereka paling penting dalam ilmu komunikasi.
Tidak adanya teori tunggal dalam ilmu komunikasi mendorong kita untuk memiliki suatu metamodel teori komunikasi yang bersifat menyeluruh (komprehensif) yang dapat membantu kita menjelaskan berbagai topik dan asumsi dan membantu kita dalam melakukan pendekatan terhadap berbagai teori yang ada. Metamodel teori komunikasi menyediakan suatu sistem yang kuat bagi kita untuk mengorganisir berbagai teori komunikasi.
Disini, kita menggunakan pandangan Robert T. Craig dalam menjelaskan berbagai teori komunikasi yang jumlahnya banyak itu. Robert Craig membagi dunia teori komunikasi ke dalam tujuh kelompok pemikiran atau tujuh tradisi pemikiran yaitu:
1. Sosiopsikologi (sociopsychological)
2. Sibernetika (cybernetic)
3. Retorika (rhetorical)
4. Semiotika (semiotic)
5. Sosiokultural (sociocultural)
6. Kritis (critical)
7. Fenomenologi (phenomenology)
1. SOSIOPSIKOLOGI
Pemikiran yang berada dibawah naungan sosiopsikologi memandang individu sebagai makhluk sosial. Teori-teori yang berada di bawah tradisi sosiopsikologi memberikan perhatiannya antara lain pada perilaku individu, pengaruh, kepribadian dan sifat individu atau bagaimana individu melakukan persepsi. Sosiopsikologi digunakan dalam topik-topik tentang diri individu, pesan, percakapan, hubungan interpersonal, kelompok, organisasi, media, budaya dan masyarakat.
2. SIBERNETIKA
Sibernetika memandang komunikasi sebagai suatu sistem dimana berbagai elemen yang terdapat di dalamnya saling berinteraksi dan saling mempengaruhi. Komunikasi dipahami sebagai sistem yang terdiri dari bagian-bagian atau variabel-variabel yang saling mempengaruhi satu sama lain. Sibernetika digunakan dalam topik-topik tentang diri individu, percakapan, hubungan interpersonal, kelompok, organisasi, media, budaya dan masyarakat.
3. RETORIKA
Retorika didefinisikan sebagai seni membangun argumentasi dan seni berbicara. Dalam perkembangannya retorika juga mencakup proses untuk ‘menyesuaikan ide dengan orang dan menyesuaikan orang dengan ide melalui berbagai macam pesan’
4. SEMIOTIKA
Semiotika memandang komunikasi sebagai proses pemberian makna melalui tanda yaitu bagaimana tanda mewakili objek, ide, situasi, dan sebagainya yang berada diluar diri individu. Semiotika digunakan dalam topik-topik tentang pesan, media, budaya dan masyarakat.
5. SOSIOKULTURAL
Cara pandang sosiokultural menekankan gagasan bahwa realitas dibangun melalui suatu proses interaksi yang terjadi dalam kelompok, masyarakat dan budaya. Sosiokultural lebih tertarik untuk mempelajari pada cara bagaimana masyarakat secara bersama-sama menciptakan realitas dari kelompok sosial, organisasi dan budaya mereka. Sosiokultural digunakan dalam topik-topik tentang diri individu, percakapan, kelompok, organisasi, media, budaya dan masyarakat.
6. KRITIS
Pertanyaan-pertanyaan mengenai kekuasaan (power) dan keistimewaan (privilege) yang diterima kelompok tertentu di masyarakat menjadi topik yang sangat penting dalam teori kritis. Kritis memandang komunikasi sebagai bentuk pemikiran yang menentang ketidakadilan. Tradisi kritis digunakan dalam topik-topik tentang diri individu, pesan, percakapan, hubungan interpersonal, kelompok, organisasi, media, budaya dan masyarakat.
7. FENOMENOLOGI
Fenomenologi memandang komunikasi sebagai pengalaman melalui diri sendiri atau diri orang lain melalui dialog. Tradisi memandang manusia secara aktif menginterpretasikan pengalaman mereka sehingga mereka dapat memahami lingkungannya melalui pengalaman personal dan langsung dengan lingkungan. Tradisi fenomenologi memberikan penekanan sangat kuat pada persepsi dan interpretasi dari pengalaman subjektif manusia. Pendukung teori ini berpandangan bahwa cerita atau pengalaman individu adalah lebih penting dan memiliki otoritas lebih besar dari pada hipotesa penelitian sekalipun. Fenomenologi digunakan dalam teori-teori tentang pesan, hubungan interpersonal, budaya dan masyarakat.
Berbagai perbedaan yang terkandung dalam masing-masing kelompok tradisi komunikasi tersebut mempengaruhi pada cara melakukan riset atau penelitian komunikasi dan mempengaruhi pilihan teori yang akan digunakan. Setiap teori menggunakan cara atau metode riset yang berbeda yang secara umum dapat dibagi ke dalam dua kelompok besar paradigma penelitian yaitu objektif dan interpretatif.
1. Objektif
Ilmu pengetahuan seringkali diasosiasikan dengan sifatnya yang objektif (objectivity) yang berarti bahwa pengetahuan selalu mencari standarisasi dan kategorisasi. Dalam hal ini, para peneliti melihat dunia sedemikian rupa sehingga peneliti lain yang menggunakan cara atau metode melihat yang sama akan menghasilkan kesimpulan yang sama pula. Dengan kata lain, suatu replikasi atau penelitian yang berulang-ulang akan selalu menghasilkan kesimpulan yang persis sama sebagaimana penelitian dalam ilmu pengetahuan alam (natural sciences). Penelitian yang menggunakan metode objektif sering disebut dengan penelitian empiris (scientific scholarship) atau positivis. Perlu ditegaskan disini bahwa apa yang dikenal selama ini sebagai tipe penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif masuk dalam kategori penelitian objektif positivis ini.
2. Interpretatif
Mereka yang menggunakan pendekatan ini sering disebut dengan humanistic scholarship. Jika metode objektif (penelitian kuantitatif/kualitatif) bertujuan membuat standarisasi observasi maka metode subjektif (penelitian interpretatif) berupaya menciptakan interpretasi. Jika ilmu pengetahuan berupaya untuk mengurangi perbedaan diantara para peneliti terhadap objek yang diteliti maka para peneliti humanistik berupaya untuk memahami tanggapan subjektif individu. Pendekatan interpretatif memandang metode penelitian ilmiah tidaklah cukup untuk dapat menjelaskan 'misteri' pengalaman manusia sehingga diperlukan unsur manusiawi yang kuat dalam penelitian. Kebanyakan mereka yang berada dalam kelompok ini lebih tertarik pada kasus-kasus individu daripada kasus-kasus umum.
Berdasarkan klasifikasi teori komunikasi oleh Robert Craig tersebut, yang manakah dari ketujuh tradisi teori komunikasi tersebut yang memiliki sifat objektif dan yang manakah yang bersifat interpretatif. Dalam hal ini, kita dapat menggunakan pandangan Griffin melalui peta tradisi teori komunikasi sebagai berikut:
Senin, 18 Januari 2010
analisis berita
2. Infoteinment sesungguhnya adalah berita tentang dunia hiburan. Berita tentang artis hanyalah sebagian dari infotainment tsb. Tetapi dalam prakteknya infotainment adalah berita tentang kehidupan artis yang masuk pada wilayah privat. Berikan pendapat anda, batas apa saja yang boleh dan tidak boleh diliput dan diberitakan tentang seorang artis di wilayah publik. Batasan yang anda buat akan mendapat nilai tinggi bila dikaitkan pada (1)dampak kognitif,afektik audience (2)UUD 1945 Pasal 28 dan UU ITE pasal 27 (3) kode etik jurnalistik. Dalam penjelasan ini anda boleh memberikan dalam satu bentuk contoh.
jawab :
Batasan-batasan yang boleh dan tidak boleh diliput tentang seorang artis sangat sulit untuk dipaparkan, karena dalam pandangan masyarakat seorang artis hanyalah sebagai public vigur yang mewarnai kancah berita infotainment. Batasan-batasan yang boleh diliput adalah yang bersifat umum seperti hal-hal yang tidak merugikan bagi diri artis tersebut. Misalnya infotainment memaparkan prestasi seoranng artis, kehidupan sehari-hari yang bersifat terbuka, pekerjaan, dan masih banyak hal yang boleh diliput dan dipaparkan di depan masyarakat luas dengan batasan-batasan tertentu. karena tidak seharusnya tentang semua keseharian seorang artis itu harus di liput dan di paparkan didepan public. Sedangkan, batasan-batasan yang tidak boleh diliput tentang seorang artis seharusnya adalah kepribadian seorang artis yang bersifat khusus. Misalnya yang bersifat privasi adalah konflik artis dalam rumahtangganya, perceraian, kebiasaan seorang artis sesuatu hal yang dianggap tidak layak untuk dipaparkan di depan umum. Karena itu dapat dianggap sebagai pencemaran nama baik yang bersangkutan dalam hal ini. Dengan pengecualian artis itu sendiri menyetujui untuk dipaparkan dan ditayangkan di layar kaca dan dipublikasikan pada khalayak ramai.
a. Batasan tersebut jika dikaitkan dengan dampak kognitif akan menjadikan Kepercayaan/ pengetahuan seseorang tentang sesuatu dipercaya dapat mempengaruhi sikap mereka dan pada akhirnya mempengaruhi perilaku/ tindakan mereka terhadap sesuatu. Karena pada dasrnya dampak kognitif dalam dunia televise , yaitu kemampuan seseorang atau pemirsa untuk menyerap dan memahami acara yang ditayangkan televisi yang melahirkan pengetahuan bagi pemirsa.namun pada akhirnya justru merubah pengetahuan seseorang akan sesuatu dipercaya dapat merubah perilaku mereka pada yang kurang baik. Proses yang dilakukan adalah memperoleh pengetahuan dan memanipulasi pengetahuan melalui aktivitas mengingat, menganalisis, memahami, menilai, menalar, membayangkan dan berbahasa.
Namun dalam hal ini infotainment bersifat arogan dan ingin menang sendiri. Karena, infotainment tidak memberikan kesempatan bagi artis itu untuk menunjukan siapa sebenernya artis yang bersangkutan dan dantidak memberikan kebebasan terhadap artis itu sendiri. Karena dalam UUD 1945 pasal 28 tentang Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebaganya ditetapkan dengan undang-undang yang berisi “Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah dan menyampaikan infomasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia”
b. Jika dikaitkan dengan pasal 27 infotainment telah berada jauh dari isi pasal 27. Karena infotainment menampilkan memaparkan kesusilaan, pencemaran nama baik, perjudian dan juga merupakan pengancaman terhadap hidup seorang artis.
c. Berdasarkan kode etik jurnalistik infotainment tidak termasuk media massa karena infotainment telah berada pada tayangan yang tidak bersifat to educate. Dan infotainment belum memenuhi syarat sebagai media massa yang sesuai dengan kode etik jurnalistik dan malah melenceng jauh dari kode etik jurnalistik yang ada. Untuk menjamin kemerdekaan pers dan memenuhi hak publik untuk memperoleh informasi yang benar, wartawan Indonesia memerlukan landasan moral dan etika profesi sebagai pedoman operasional dalam menjaga kepercayaan publik dan menegakkan integritas, serta profesionalisme. Atas dasar itu, wartawan Indonesia menetapkan dan menaati Kode Etik Jurnalistik. Wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk.
3. Pengaruh perkembangan TV mobil pada pergeseran ruang waktu di keluarga di era Tv stationer. Dengan sistem sensor seperti itu, tidak mengganggu konsentrasi pengendaranya. Yang menjadi masalah, adalah TV mobil berlangganan bongkar pasang yang muncul di pasaran akhir-akhir ini. TV mobil pun biasanya dipasang di depan, dekat dengan pendingin udara bagian depan sehingga bisa dilihat pengemudi.
a. Layar TV kecil yang kini sudah bisa dipasang di mobil atau di lingkar stir mobil, dituding oleh sebagian orang sebagai penyebab beberapa kasus kecelakaan. Tapi, sebuah perusahaan perangkat TV mobil ini membantah. Sebenarnya, tudingan itu cukup beralasan. Pasalnya, pengemudi yang memasang TV mobilnya, harus membagi perhatiannya antara layar TV yang terpasang di lingkar kemudi atau dashbor mobil dengan arus lalu lintas. Apalagi, penambahan alat tersebut harus menggusur penyelamat kantong udara yang jgua diletakkan di tempat yang sama. Kecuali jika TV mobil dipasang di dashbor. Pada dasrnya perkembangan TV mobil ini membuat para pengguna nya semakin berkurang waktunya bersama keluarganya,
b. Pengaruhnya terhadap pembuatan program acara TV adalah melakukan Menekankan pendekatan khalayak 'pilihan dengan menilai alasan mereka untuk menggunakan media tertentu dengan mengabaikan orang lain, serta berbagai kepuasan-kepuasan yang diperoleh dari media, berdasarkan individu sosial dan kebutuhan psikologis. Media watch mencatat bahwa selama ini atas nama mekanisme pasar, pilihan format isi pertelevisian tak pernah lepas dari pertimbangan ”tuntunan khalayak” menurut perspektif pengelola. Berbagai program acara dibuat hanya untuk melayani kelompok budaya mayoritas yang potensial menguntungkan, sementara kelompok minoritas tersisihkan dari dunia simbolik televisi.
Sudut pandang use and gratification theory adalah Penggunaan dan Pemenuhan Kepuasan pendekatan ejon tradisi yang berpengaruh dalam penelitian media. Konsepsi asli dari pendekatan yang didasarkan pada penelitian untuk menjelaskan daya tarik besar isi media tertentu. Pertanyaan inti penelitian tersebut adalah: Mengapa orang menggunakan media dan apa yang mereka gunakan mereka untuk? (McQuail, 1983). Terdapat ide dasar dalam pendekatan ini: penonton tahu isi media, dan media yang dapat mereka gunakan untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Dalam proses komunikasi massa, menggunakan pendekatan dan Pemenuhan Kepuasan menempatkan fungsi menghubungkan memerlukan kepuasan-kepuasan dan pilihan media yang jelas di sisi penonton gay. Ini menunjukkan bahwa kebutuhan masyarakat pengaruh media apa yang akan mereka pilih, bagaimana mereka menggunakan media tertentu dan kepuasan-kepuasan apa yang media berikan kepada mereka. Pendekatan ini berbeda dari perspektif teoretis lain yang menganggap khalayak sebagai pengguna media yang aktif sebagai lawan dari penerima pasif informasi. Berbeda dengan teori-teori efek media tradisional yang berfokus pada "apa yang media lakukan untuk rakyat" dan berasumsi khalayak adalah homogen, menggunakan pendekatan dan Pemenuhan Kepuasan lebih peduli dengan "apa yang dilakukan orang dengan media" (Katz, 1959). Hal ini memungkinkan khalayak kebutuhan pribadi untuk menggunakan media dan menanggapi media, yang ditentukan oleh latar belakang sosial dan psikologis.
Penggunaan dan Pemenuhan Kepuasan pendekatan juga mendalilkan bahwa media bersaing dengan sumber-sumber informasi lain untuk kepuasan kebutuhan audiens (Katz et al., 1974a). Sebagai media massa tradisional dan media baru terus memberikan orang-orang dengan berbagai platform media dan konten, itu dianggap sebagai salah satu perspektif yang paling tepat untuk menyelidiki mengapa khalayak memilih untuk menjadi terkena saluran media yang berbeda (LaRose et al., 2001) .
Menekankan pendekatan khalayak 'pilihan dengan menilai alasan mereka untuk menggunakan media tertentu dengan mengabaikan orang lain, serta berbagai kepuasan-kepuasan yang diperoleh dari media, berdasarkan individu sosial dan kebutuhan psikologis (Severin & cangkir, 1997). Sebagai perspektif yang lebih luas di antara penelitian komunikasi, ia menyediakan sebuah kerangka untuk memahami proses-proses oleh peserta media yang mencari informasi atau konten selektif, sepadan dengan kebutuhan dan kepentingan mereka (Katz et al., 1974a). Penonton kemudian menggabungkan konten untuk memenuhi kebutuhan mereka atau untuk memenuhi kepentingan mereka (Lowery & Nabila, 1983)
jawab :
Batasan-batasan yang boleh dan tidak boleh diliput tentang seorang artis sangat sulit untuk dipaparkan, karena dalam pandangan masyarakat seorang artis hanyalah sebagai public vigur yang mewarnai kancah berita infotainment. Batasan-batasan yang boleh diliput adalah yang bersifat umum seperti hal-hal yang tidak merugikan bagi diri artis tersebut. Misalnya infotainment memaparkan prestasi seoranng artis, kehidupan sehari-hari yang bersifat terbuka, pekerjaan, dan masih banyak hal yang boleh diliput dan dipaparkan di depan masyarakat luas dengan batasan-batasan tertentu. karena tidak seharusnya tentang semua keseharian seorang artis itu harus di liput dan di paparkan didepan public. Sedangkan, batasan-batasan yang tidak boleh diliput tentang seorang artis seharusnya adalah kepribadian seorang artis yang bersifat khusus. Misalnya yang bersifat privasi adalah konflik artis dalam rumahtangganya, perceraian, kebiasaan seorang artis sesuatu hal yang dianggap tidak layak untuk dipaparkan di depan umum. Karena itu dapat dianggap sebagai pencemaran nama baik yang bersangkutan dalam hal ini. Dengan pengecualian artis itu sendiri menyetujui untuk dipaparkan dan ditayangkan di layar kaca dan dipublikasikan pada khalayak ramai.
a. Batasan tersebut jika dikaitkan dengan dampak kognitif akan menjadikan Kepercayaan/ pengetahuan seseorang tentang sesuatu dipercaya dapat mempengaruhi sikap mereka dan pada akhirnya mempengaruhi perilaku/ tindakan mereka terhadap sesuatu. Karena pada dasrnya dampak kognitif dalam dunia televise , yaitu kemampuan seseorang atau pemirsa untuk menyerap dan memahami acara yang ditayangkan televisi yang melahirkan pengetahuan bagi pemirsa.namun pada akhirnya justru merubah pengetahuan seseorang akan sesuatu dipercaya dapat merubah perilaku mereka pada yang kurang baik. Proses yang dilakukan adalah memperoleh pengetahuan dan memanipulasi pengetahuan melalui aktivitas mengingat, menganalisis, memahami, menilai, menalar, membayangkan dan berbahasa.
Namun dalam hal ini infotainment bersifat arogan dan ingin menang sendiri. Karena, infotainment tidak memberikan kesempatan bagi artis itu untuk menunjukan siapa sebenernya artis yang bersangkutan dan dantidak memberikan kebebasan terhadap artis itu sendiri. Karena dalam UUD 1945 pasal 28 tentang Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebaganya ditetapkan dengan undang-undang yang berisi “Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah dan menyampaikan infomasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia”
b. Jika dikaitkan dengan pasal 27 infotainment telah berada jauh dari isi pasal 27. Karena infotainment menampilkan memaparkan kesusilaan, pencemaran nama baik, perjudian dan juga merupakan pengancaman terhadap hidup seorang artis.
c. Berdasarkan kode etik jurnalistik infotainment tidak termasuk media massa karena infotainment telah berada pada tayangan yang tidak bersifat to educate. Dan infotainment belum memenuhi syarat sebagai media massa yang sesuai dengan kode etik jurnalistik dan malah melenceng jauh dari kode etik jurnalistik yang ada. Untuk menjamin kemerdekaan pers dan memenuhi hak publik untuk memperoleh informasi yang benar, wartawan Indonesia memerlukan landasan moral dan etika profesi sebagai pedoman operasional dalam menjaga kepercayaan publik dan menegakkan integritas, serta profesionalisme. Atas dasar itu, wartawan Indonesia menetapkan dan menaati Kode Etik Jurnalistik. Wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk.
3. Pengaruh perkembangan TV mobil pada pergeseran ruang waktu di keluarga di era Tv stationer. Dengan sistem sensor seperti itu, tidak mengganggu konsentrasi pengendaranya. Yang menjadi masalah, adalah TV mobil berlangganan bongkar pasang yang muncul di pasaran akhir-akhir ini. TV mobil pun biasanya dipasang di depan, dekat dengan pendingin udara bagian depan sehingga bisa dilihat pengemudi.
a. Layar TV kecil yang kini sudah bisa dipasang di mobil atau di lingkar stir mobil, dituding oleh sebagian orang sebagai penyebab beberapa kasus kecelakaan. Tapi, sebuah perusahaan perangkat TV mobil ini membantah. Sebenarnya, tudingan itu cukup beralasan. Pasalnya, pengemudi yang memasang TV mobilnya, harus membagi perhatiannya antara layar TV yang terpasang di lingkar kemudi atau dashbor mobil dengan arus lalu lintas. Apalagi, penambahan alat tersebut harus menggusur penyelamat kantong udara yang jgua diletakkan di tempat yang sama. Kecuali jika TV mobil dipasang di dashbor. Pada dasrnya perkembangan TV mobil ini membuat para pengguna nya semakin berkurang waktunya bersama keluarganya,
b. Pengaruhnya terhadap pembuatan program acara TV adalah melakukan Menekankan pendekatan khalayak 'pilihan dengan menilai alasan mereka untuk menggunakan media tertentu dengan mengabaikan orang lain, serta berbagai kepuasan-kepuasan yang diperoleh dari media, berdasarkan individu sosial dan kebutuhan psikologis. Media watch mencatat bahwa selama ini atas nama mekanisme pasar, pilihan format isi pertelevisian tak pernah lepas dari pertimbangan ”tuntunan khalayak” menurut perspektif pengelola. Berbagai program acara dibuat hanya untuk melayani kelompok budaya mayoritas yang potensial menguntungkan, sementara kelompok minoritas tersisihkan dari dunia simbolik televisi.
Sudut pandang use and gratification theory adalah Penggunaan dan Pemenuhan Kepuasan pendekatan ejon tradisi yang berpengaruh dalam penelitian media. Konsepsi asli dari pendekatan yang didasarkan pada penelitian untuk menjelaskan daya tarik besar isi media tertentu. Pertanyaan inti penelitian tersebut adalah: Mengapa orang menggunakan media dan apa yang mereka gunakan mereka untuk? (McQuail, 1983). Terdapat ide dasar dalam pendekatan ini: penonton tahu isi media, dan media yang dapat mereka gunakan untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Dalam proses komunikasi massa, menggunakan pendekatan dan Pemenuhan Kepuasan menempatkan fungsi menghubungkan memerlukan kepuasan-kepuasan dan pilihan media yang jelas di sisi penonton gay. Ini menunjukkan bahwa kebutuhan masyarakat pengaruh media apa yang akan mereka pilih, bagaimana mereka menggunakan media tertentu dan kepuasan-kepuasan apa yang media berikan kepada mereka. Pendekatan ini berbeda dari perspektif teoretis lain yang menganggap khalayak sebagai pengguna media yang aktif sebagai lawan dari penerima pasif informasi. Berbeda dengan teori-teori efek media tradisional yang berfokus pada "apa yang media lakukan untuk rakyat" dan berasumsi khalayak adalah homogen, menggunakan pendekatan dan Pemenuhan Kepuasan lebih peduli dengan "apa yang dilakukan orang dengan media" (Katz, 1959). Hal ini memungkinkan khalayak kebutuhan pribadi untuk menggunakan media dan menanggapi media, yang ditentukan oleh latar belakang sosial dan psikologis.
Penggunaan dan Pemenuhan Kepuasan pendekatan juga mendalilkan bahwa media bersaing dengan sumber-sumber informasi lain untuk kepuasan kebutuhan audiens (Katz et al., 1974a). Sebagai media massa tradisional dan media baru terus memberikan orang-orang dengan berbagai platform media dan konten, itu dianggap sebagai salah satu perspektif yang paling tepat untuk menyelidiki mengapa khalayak memilih untuk menjadi terkena saluran media yang berbeda (LaRose et al., 2001) .
Menekankan pendekatan khalayak 'pilihan dengan menilai alasan mereka untuk menggunakan media tertentu dengan mengabaikan orang lain, serta berbagai kepuasan-kepuasan yang diperoleh dari media, berdasarkan individu sosial dan kebutuhan psikologis (Severin & cangkir, 1997). Sebagai perspektif yang lebih luas di antara penelitian komunikasi, ia menyediakan sebuah kerangka untuk memahami proses-proses oleh peserta media yang mencari informasi atau konten selektif, sepadan dengan kebutuhan dan kepentingan mereka (Katz et al., 1974a). Penonton kemudian menggabungkan konten untuk memenuhi kebutuhan mereka atau untuk memenuhi kepentingan mereka (Lowery & Nabila, 1983)
Sabtu, 09 Januari 2010
PHANTOM EMOTION
1. Apakah phantom emotion mewakili personal ?
Phantom Emotion merupakan emosi semu yang tidak terinterprentasikan dan biasanya orang yang mengalaminya akan sulit memahami apa yang terjadi pada lingkungan di sekitarnya.
Sebagai contoh pada televisi. Televisi adalah media massa yang menjual
“situasi” kepada penontonnya. Dinamisasi gambar yang bergerak begitu cepat dan angle-angle kamera yang dihasilkan dari berbagai sudut, telah “menghipnotis” penontonnya untuk tetap diam terpaku di depan layar kaca. Kekuatan pada dinamika gambar, memang bukan satu-satunya kekuatan yang dimiliki media televisi, perpaduan antara kata-kata yang disampaikan presenter (penyiar) dan hiruk pikuk suara di
lokasi kejadian, akan menambah kekuatan pesan itu sendiri. Makna yang terkandung dalam pesan-pesan gambar itu tidak berasal dari informasi itu sendiri. Makna tidak menyertai jumlah dokumen, fakta atau kepingan informasi tapi bergantung (minimal sebagian) pada komitmen awal skema konseptual, teori dan perspektif. Perkembangan ideologi, Era Ideologi merupakan respon dasar terhadap revolusi komunikasi; ia merupakan usaha untuk memberikan makna.
Era Ideologi bisa dilihat sebagai perkembangan produksi sistem simbol yang merespon meningkatnya pasar kebutuhan makna; khsususnya, makna sekuler, dikarenakan menurunnya sistem nilai lama dan agama yang sebelumnya terkait dengan rezim lama; sebagian dikarenakan struktur sosial baru dan kejadian-kejadian revolusioner yang harus disintesakan; dan sebagian besar disebabkan oleh meluasnya informasi ke segala arah karena revolusi komunikasi. Era Ideologi tidak hanya dilihat sebagai respons terhadap fragmentasi berita, tapi juga berkaitan dengan pengembangan sejarah modern. Perkembangan sejarah modern menghubungkan kejadian masa lalu dan sekarang dan mendorong saling keterkaitan antar subsistem tersendiri dalam masyarakat. Contohnya, saling keterkaitan antara ekonomi dan politik dan sejarah tidak lagi merupakan kepingan kisah mengenai kekuasaan kerajaan. Sejarah baru mengalami perluasan konteks sebagaimana ideologi. Munculnya media massa dan media publik merupakan perkembangan konstruktif. Publik muncul ketika terjadi penurunan pola dan interaksi sosial antar budaya, kelompok tradisional memiliki karakteristik pola interaksi sosial antar anggotanya yang mendorong pemahaman dan minat bersama dan memungkinkan interaksi sosial. Publik, adalah sejumlah orang yang terekspose kepada
rangsangan yang sama dan memiliki kesamaan bahkan tanpa berinteraksi satu sama lainnya. Media massa memudahkan interaksi sosial untuk kesamaan budaya. Informasi dan orientasi, fakta dan nilai-nilai bisa diketahui tanpa interaksi antar manusia. Keyakinan sebagian orang yang dinilai sebagai hal yang nyata
dan bernilai sekarang bisa dikontrol dari kejauhan, terpisah dan diluar dari
mereka yang meyakininya.
Berita memungkinkan seseorang membandingkan kondisinya dengan orang lain. Berita memungkinkan alternatif ditentukan sebagai realistis dengan menunjukkan kondisi berbeda yang sudah ada. Berita memungkinkan seseorang untuk meramalkan kondisi di masa datang, contohnya pada laporan ramalan cuaca. Analisis awal terhadap publik dan berita bahwa berita menafsirkan sebuah publik dengan mendorong dialog tatap muka. Percakapan diperkuat untuk memecahkan keitdakpastian tentang makna berita. Percakapan berdasar berita, sebagai sarana rasionalitas publik bergantung pada tidak adanya mata-mata pemerintahan, informan, sensor dan agen rahasia yang ditugaskan oleh pemerintah. Sistem kelas dan negara harus dikeluarkan dari percakapan agar publik bisa mengaktualisasikan potensinya untuk mengajukan kritik rasional.
Transformasi sosial sendiri tidak akan bisa meningkatkan rasionalitas publik jika ia tidak mencegah negara agar tidak membebankan hukuman atau penyelidikan atas percakapan kritis. Ideologi berfungsi memobilisasi pergerakan sosial dalam publik melalui perantara surat kabar dan media lainnya. Pergerakan merupakan sektor publik yang bertujuan untuk proyek publik dan identitas sosial umum. Pergerakan sosial merupakan sektor pulik yang responsif terhadap ideologi mereka memiliki ideologi yang pada satu sisi menterjemahkan berita dan di sisi lain, menyediakan kesadaran atas identitas sosialnya dari laporan-laporan dalam media berita. Gagasan “publik” berkembang dengan munculnya gagasan “pribadi”. Hubungan antara keduanya tidak selalu sama di semua negara. Publik dan pribadi berkembang bersama. Untuk membuat suatu permasalahan menjadi masalah publik berarti membukanya terhadap orang-orang asing, mereka yang umumnya tidak terlihat dan terdengar. Pada tingkatan paradigmatik
publik adalah di luar keluarga. Pertumbuhan publik dan pribadi yang bersamaan berarti perkembangan batasan kekuatan publik, pembentukan batasan bagi sebuah lembaga dimana publik tidak bisa ikut campur di dalamnya. Berkaitan dengan pesan-pesan yang
disampaikan melalui media televisi, dalam artikelnya Hans-Bern Brosius berargumen bahwa efek emosi secara visual ditunjukkan tidak dalam ingatan yang jelas dari teks tetapi melalui bentuk-bentuk spesifik dari kesalahan dalam pengingatan dan hubungan dari kesalahan-kesalahan ini kepada bagian-bagian tertantu dari berita. Kesalahan-kesalahan ini terjadi karena emosi secara visual berfokus pada bagian-bagian spesifik dari berita dan bahwa ingatan disusun kembali dari penilaian yang perseptual yang digeneralisasi dari bagian-bagian spesifik. Belajar dari berita TV –walaupun dianggap sebagai alat untuk membentuk pendapat umum dalam masyarakat demokratis- menjadi lebih lemah dari yang diharapkan. Bahkan setelah penyiaran selesai, pada umumnya pemirsa hanya dapat mengingat sedikit cerita yang disiarkan dan informasi yang diberikanpun tidak lengkap. Konsekuensi dari kondisi ini, pesan yang ingin disampaikan tidak sesuai dengan sasaran yang diharapkan. Mayoritas penelitian yang pernah dilakukan terdahulu memang memfokuskan pada bagaimana peranan efek-efek visual yang ditampilkan dalam layar kaca, dikaitkan dengan pemahaman terhadap informasi yang dituangkan dalam teks berita. Film dan gambar-gambar dalam berita, merupakan penggambaran yang unik dari sebuah tayangan televisi, dan ini kemudian yang membedakannya antara pesan lewat radio maupun suratkabar. Kesimpulannya tentu saja, gambar-gambar dalam layar televisi sangat membantu untuk mengingatkan pada isi berita.
Phantom Emotion merupakan emosi semu yang tidak terinterprentasikan dan biasanya orang yang mengalaminya akan sulit memahami apa yang terjadi pada lingkungan di sekitarnya.
Sebagai contoh pada televisi. Televisi adalah media massa yang menjual
“situasi” kepada penontonnya. Dinamisasi gambar yang bergerak begitu cepat dan angle-angle kamera yang dihasilkan dari berbagai sudut, telah “menghipnotis” penontonnya untuk tetap diam terpaku di depan layar kaca. Kekuatan pada dinamika gambar, memang bukan satu-satunya kekuatan yang dimiliki media televisi, perpaduan antara kata-kata yang disampaikan presenter (penyiar) dan hiruk pikuk suara di
lokasi kejadian, akan menambah kekuatan pesan itu sendiri. Makna yang terkandung dalam pesan-pesan gambar itu tidak berasal dari informasi itu sendiri. Makna tidak menyertai jumlah dokumen, fakta atau kepingan informasi tapi bergantung (minimal sebagian) pada komitmen awal skema konseptual, teori dan perspektif. Perkembangan ideologi, Era Ideologi merupakan respon dasar terhadap revolusi komunikasi; ia merupakan usaha untuk memberikan makna.
Era Ideologi bisa dilihat sebagai perkembangan produksi sistem simbol yang merespon meningkatnya pasar kebutuhan makna; khsususnya, makna sekuler, dikarenakan menurunnya sistem nilai lama dan agama yang sebelumnya terkait dengan rezim lama; sebagian dikarenakan struktur sosial baru dan kejadian-kejadian revolusioner yang harus disintesakan; dan sebagian besar disebabkan oleh meluasnya informasi ke segala arah karena revolusi komunikasi. Era Ideologi tidak hanya dilihat sebagai respons terhadap fragmentasi berita, tapi juga berkaitan dengan pengembangan sejarah modern. Perkembangan sejarah modern menghubungkan kejadian masa lalu dan sekarang dan mendorong saling keterkaitan antar subsistem tersendiri dalam masyarakat. Contohnya, saling keterkaitan antara ekonomi dan politik dan sejarah tidak lagi merupakan kepingan kisah mengenai kekuasaan kerajaan. Sejarah baru mengalami perluasan konteks sebagaimana ideologi. Munculnya media massa dan media publik merupakan perkembangan konstruktif. Publik muncul ketika terjadi penurunan pola dan interaksi sosial antar budaya, kelompok tradisional memiliki karakteristik pola interaksi sosial antar anggotanya yang mendorong pemahaman dan minat bersama dan memungkinkan interaksi sosial. Publik, adalah sejumlah orang yang terekspose kepada
rangsangan yang sama dan memiliki kesamaan bahkan tanpa berinteraksi satu sama lainnya. Media massa memudahkan interaksi sosial untuk kesamaan budaya. Informasi dan orientasi, fakta dan nilai-nilai bisa diketahui tanpa interaksi antar manusia. Keyakinan sebagian orang yang dinilai sebagai hal yang nyata
dan bernilai sekarang bisa dikontrol dari kejauhan, terpisah dan diluar dari
mereka yang meyakininya.
Berita memungkinkan seseorang membandingkan kondisinya dengan orang lain. Berita memungkinkan alternatif ditentukan sebagai realistis dengan menunjukkan kondisi berbeda yang sudah ada. Berita memungkinkan seseorang untuk meramalkan kondisi di masa datang, contohnya pada laporan ramalan cuaca. Analisis awal terhadap publik dan berita bahwa berita menafsirkan sebuah publik dengan mendorong dialog tatap muka. Percakapan diperkuat untuk memecahkan keitdakpastian tentang makna berita. Percakapan berdasar berita, sebagai sarana rasionalitas publik bergantung pada tidak adanya mata-mata pemerintahan, informan, sensor dan agen rahasia yang ditugaskan oleh pemerintah. Sistem kelas dan negara harus dikeluarkan dari percakapan agar publik bisa mengaktualisasikan potensinya untuk mengajukan kritik rasional.
Transformasi sosial sendiri tidak akan bisa meningkatkan rasionalitas publik jika ia tidak mencegah negara agar tidak membebankan hukuman atau penyelidikan atas percakapan kritis. Ideologi berfungsi memobilisasi pergerakan sosial dalam publik melalui perantara surat kabar dan media lainnya. Pergerakan merupakan sektor publik yang bertujuan untuk proyek publik dan identitas sosial umum. Pergerakan sosial merupakan sektor pulik yang responsif terhadap ideologi mereka memiliki ideologi yang pada satu sisi menterjemahkan berita dan di sisi lain, menyediakan kesadaran atas identitas sosialnya dari laporan-laporan dalam media berita. Gagasan “publik” berkembang dengan munculnya gagasan “pribadi”. Hubungan antara keduanya tidak selalu sama di semua negara. Publik dan pribadi berkembang bersama. Untuk membuat suatu permasalahan menjadi masalah publik berarti membukanya terhadap orang-orang asing, mereka yang umumnya tidak terlihat dan terdengar. Pada tingkatan paradigmatik
publik adalah di luar keluarga. Pertumbuhan publik dan pribadi yang bersamaan berarti perkembangan batasan kekuatan publik, pembentukan batasan bagi sebuah lembaga dimana publik tidak bisa ikut campur di dalamnya. Berkaitan dengan pesan-pesan yang
disampaikan melalui media televisi, dalam artikelnya Hans-Bern Brosius berargumen bahwa efek emosi secara visual ditunjukkan tidak dalam ingatan yang jelas dari teks tetapi melalui bentuk-bentuk spesifik dari kesalahan dalam pengingatan dan hubungan dari kesalahan-kesalahan ini kepada bagian-bagian tertantu dari berita. Kesalahan-kesalahan ini terjadi karena emosi secara visual berfokus pada bagian-bagian spesifik dari berita dan bahwa ingatan disusun kembali dari penilaian yang perseptual yang digeneralisasi dari bagian-bagian spesifik. Belajar dari berita TV –walaupun dianggap sebagai alat untuk membentuk pendapat umum dalam masyarakat demokratis- menjadi lebih lemah dari yang diharapkan. Bahkan setelah penyiaran selesai, pada umumnya pemirsa hanya dapat mengingat sedikit cerita yang disiarkan dan informasi yang diberikanpun tidak lengkap. Konsekuensi dari kondisi ini, pesan yang ingin disampaikan tidak sesuai dengan sasaran yang diharapkan. Mayoritas penelitian yang pernah dilakukan terdahulu memang memfokuskan pada bagaimana peranan efek-efek visual yang ditampilkan dalam layar kaca, dikaitkan dengan pemahaman terhadap informasi yang dituangkan dalam teks berita. Film dan gambar-gambar dalam berita, merupakan penggambaran yang unik dari sebuah tayangan televisi, dan ini kemudian yang membedakannya antara pesan lewat radio maupun suratkabar. Kesimpulannya tentu saja, gambar-gambar dalam layar televisi sangat membantu untuk mengingatkan pada isi berita.
Langganan:
Postingan (Atom)

