2. Infoteinment sesungguhnya adalah berita tentang dunia hiburan. Berita tentang artis hanyalah sebagian dari infotainment tsb. Tetapi dalam prakteknya infotainment adalah berita tentang kehidupan artis yang masuk pada wilayah privat. Berikan pendapat anda, batas apa saja yang boleh dan tidak boleh diliput dan diberitakan tentang seorang artis di wilayah publik. Batasan yang anda buat akan mendapat nilai tinggi bila dikaitkan pada (1)dampak kognitif,afektik audience (2)UUD 1945 Pasal 28 dan UU ITE pasal 27 (3) kode etik jurnalistik. Dalam penjelasan ini anda boleh memberikan dalam satu bentuk contoh.
jawab :
Batasan-batasan yang boleh dan tidak boleh diliput tentang seorang artis sangat sulit untuk dipaparkan, karena dalam pandangan masyarakat seorang artis hanyalah sebagai public vigur yang mewarnai kancah berita infotainment. Batasan-batasan yang boleh diliput adalah yang bersifat umum seperti hal-hal yang tidak merugikan bagi diri artis tersebut. Misalnya infotainment memaparkan prestasi seoranng artis, kehidupan sehari-hari yang bersifat terbuka, pekerjaan, dan masih banyak hal yang boleh diliput dan dipaparkan di depan masyarakat luas dengan batasan-batasan tertentu. karena tidak seharusnya tentang semua keseharian seorang artis itu harus di liput dan di paparkan didepan public. Sedangkan, batasan-batasan yang tidak boleh diliput tentang seorang artis seharusnya adalah kepribadian seorang artis yang bersifat khusus. Misalnya yang bersifat privasi adalah konflik artis dalam rumahtangganya, perceraian, kebiasaan seorang artis sesuatu hal yang dianggap tidak layak untuk dipaparkan di depan umum. Karena itu dapat dianggap sebagai pencemaran nama baik yang bersangkutan dalam hal ini. Dengan pengecualian artis itu sendiri menyetujui untuk dipaparkan dan ditayangkan di layar kaca dan dipublikasikan pada khalayak ramai.
a. Batasan tersebut jika dikaitkan dengan dampak kognitif akan menjadikan Kepercayaan/ pengetahuan seseorang tentang sesuatu dipercaya dapat mempengaruhi sikap mereka dan pada akhirnya mempengaruhi perilaku/ tindakan mereka terhadap sesuatu. Karena pada dasrnya dampak kognitif dalam dunia televise , yaitu kemampuan seseorang atau pemirsa untuk menyerap dan memahami acara yang ditayangkan televisi yang melahirkan pengetahuan bagi pemirsa.namun pada akhirnya justru merubah pengetahuan seseorang akan sesuatu dipercaya dapat merubah perilaku mereka pada yang kurang baik. Proses yang dilakukan adalah memperoleh pengetahuan dan memanipulasi pengetahuan melalui aktivitas mengingat, menganalisis, memahami, menilai, menalar, membayangkan dan berbahasa.
Namun dalam hal ini infotainment bersifat arogan dan ingin menang sendiri. Karena, infotainment tidak memberikan kesempatan bagi artis itu untuk menunjukan siapa sebenernya artis yang bersangkutan dan dantidak memberikan kebebasan terhadap artis itu sendiri. Karena dalam UUD 1945 pasal 28 tentang Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebaganya ditetapkan dengan undang-undang yang berisi “Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah dan menyampaikan infomasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia”
b. Jika dikaitkan dengan pasal 27 infotainment telah berada jauh dari isi pasal 27. Karena infotainment menampilkan memaparkan kesusilaan, pencemaran nama baik, perjudian dan juga merupakan pengancaman terhadap hidup seorang artis.
c. Berdasarkan kode etik jurnalistik infotainment tidak termasuk media massa karena infotainment telah berada pada tayangan yang tidak bersifat to educate. Dan infotainment belum memenuhi syarat sebagai media massa yang sesuai dengan kode etik jurnalistik dan malah melenceng jauh dari kode etik jurnalistik yang ada. Untuk menjamin kemerdekaan pers dan memenuhi hak publik untuk memperoleh informasi yang benar, wartawan Indonesia memerlukan landasan moral dan etika profesi sebagai pedoman operasional dalam menjaga kepercayaan publik dan menegakkan integritas, serta profesionalisme. Atas dasar itu, wartawan Indonesia menetapkan dan menaati Kode Etik Jurnalistik. Wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk.
3. Pengaruh perkembangan TV mobil pada pergeseran ruang waktu di keluarga di era Tv stationer. Dengan sistem sensor seperti itu, tidak mengganggu konsentrasi pengendaranya. Yang menjadi masalah, adalah TV mobil berlangganan bongkar pasang yang muncul di pasaran akhir-akhir ini. TV mobil pun biasanya dipasang di depan, dekat dengan pendingin udara bagian depan sehingga bisa dilihat pengemudi.
a. Layar TV kecil yang kini sudah bisa dipasang di mobil atau di lingkar stir mobil, dituding oleh sebagian orang sebagai penyebab beberapa kasus kecelakaan. Tapi, sebuah perusahaan perangkat TV mobil ini membantah. Sebenarnya, tudingan itu cukup beralasan. Pasalnya, pengemudi yang memasang TV mobilnya, harus membagi perhatiannya antara layar TV yang terpasang di lingkar kemudi atau dashbor mobil dengan arus lalu lintas. Apalagi, penambahan alat tersebut harus menggusur penyelamat kantong udara yang jgua diletakkan di tempat yang sama. Kecuali jika TV mobil dipasang di dashbor. Pada dasrnya perkembangan TV mobil ini membuat para pengguna nya semakin berkurang waktunya bersama keluarganya,
b. Pengaruhnya terhadap pembuatan program acara TV adalah melakukan Menekankan pendekatan khalayak 'pilihan dengan menilai alasan mereka untuk menggunakan media tertentu dengan mengabaikan orang lain, serta berbagai kepuasan-kepuasan yang diperoleh dari media, berdasarkan individu sosial dan kebutuhan psikologis. Media watch mencatat bahwa selama ini atas nama mekanisme pasar, pilihan format isi pertelevisian tak pernah lepas dari pertimbangan ”tuntunan khalayak” menurut perspektif pengelola. Berbagai program acara dibuat hanya untuk melayani kelompok budaya mayoritas yang potensial menguntungkan, sementara kelompok minoritas tersisihkan dari dunia simbolik televisi.
Sudut pandang use and gratification theory adalah Penggunaan dan Pemenuhan Kepuasan pendekatan ejon tradisi yang berpengaruh dalam penelitian media. Konsepsi asli dari pendekatan yang didasarkan pada penelitian untuk menjelaskan daya tarik besar isi media tertentu. Pertanyaan inti penelitian tersebut adalah: Mengapa orang menggunakan media dan apa yang mereka gunakan mereka untuk? (McQuail, 1983). Terdapat ide dasar dalam pendekatan ini: penonton tahu isi media, dan media yang dapat mereka gunakan untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Dalam proses komunikasi massa, menggunakan pendekatan dan Pemenuhan Kepuasan menempatkan fungsi menghubungkan memerlukan kepuasan-kepuasan dan pilihan media yang jelas di sisi penonton gay. Ini menunjukkan bahwa kebutuhan masyarakat pengaruh media apa yang akan mereka pilih, bagaimana mereka menggunakan media tertentu dan kepuasan-kepuasan apa yang media berikan kepada mereka. Pendekatan ini berbeda dari perspektif teoretis lain yang menganggap khalayak sebagai pengguna media yang aktif sebagai lawan dari penerima pasif informasi. Berbeda dengan teori-teori efek media tradisional yang berfokus pada "apa yang media lakukan untuk rakyat" dan berasumsi khalayak adalah homogen, menggunakan pendekatan dan Pemenuhan Kepuasan lebih peduli dengan "apa yang dilakukan orang dengan media" (Katz, 1959). Hal ini memungkinkan khalayak kebutuhan pribadi untuk menggunakan media dan menanggapi media, yang ditentukan oleh latar belakang sosial dan psikologis.
Penggunaan dan Pemenuhan Kepuasan pendekatan juga mendalilkan bahwa media bersaing dengan sumber-sumber informasi lain untuk kepuasan kebutuhan audiens (Katz et al., 1974a). Sebagai media massa tradisional dan media baru terus memberikan orang-orang dengan berbagai platform media dan konten, itu dianggap sebagai salah satu perspektif yang paling tepat untuk menyelidiki mengapa khalayak memilih untuk menjadi terkena saluran media yang berbeda (LaRose et al., 2001) .
Menekankan pendekatan khalayak 'pilihan dengan menilai alasan mereka untuk menggunakan media tertentu dengan mengabaikan orang lain, serta berbagai kepuasan-kepuasan yang diperoleh dari media, berdasarkan individu sosial dan kebutuhan psikologis (Severin & cangkir, 1997). Sebagai perspektif yang lebih luas di antara penelitian komunikasi, ia menyediakan sebuah kerangka untuk memahami proses-proses oleh peserta media yang mencari informasi atau konten selektif, sepadan dengan kebutuhan dan kepentingan mereka (Katz et al., 1974a). Penonton kemudian menggabungkan konten untuk memenuhi kebutuhan mereka atau untuk memenuhi kepentingan mereka (Lowery & Nabila, 1983)
Pengikut
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar